Sejarah Singkat Terjadinya Perang Salib


Para sejarawan modern berbeda pendapat perihal Tentara Salib. Bagi sebagian sejarawan, sepak terjang bala Tentara Salib tidak sejalan dengan tujuan mulia yang semula didengung-dengungkan, dan tidak selaras dengan sikap lembaga kepausan selaku pandu akhlak Dunia Kristen, sebagaimana yang dibuktikan oleh kenyataan bahwa Sri Paus adakalanya menjatuhkan hukuman pengucilan terhadap para Tentara Salib. Bala Tentara Salib dalam pergerakannya seringkali melakukan aksi penjarahan, dan pada umumnya panglima-panglima Tentara Salib bertahan menguasai wilayah yang telah berhasil direbut, alih-alih mengembalikannya kepada Kekaisaran Bizantin. Selama berkobarnya Perang Salib Rakyat, ribuan orang Yahudi tewas terbunuh dalam aksi kejam yang kini disebut sebagai Peristiwa Pembantaian Rheinland. Konstantinopel dijarah habis-habisan selama Perang Salib Keempat. Meskipun demikian, Perang Salib berdampak besar bagi peradaban Dunia Barat: perang-perang ini membuka kembali perairan Laut Tengah bagi kegiatan niaga dan pelayaran (memungkinkan berkembangnya Genova dan Venesia); memadu jati diri kolektif Gereja Latin di bawah kepemimpinan Sri Paus; serta menjadi sumber kisah-kisah kepahlawanan, perilaku kesatria, dan kesalehan yang menjiwai roman, filsafat, dan sastra Abad Pertengahan. Perang Salib juga memperkukuh pertalian antara Dunia Kristen Barat, feodalisme, dan militerisme.

Perang Salib adalah serangkaian perang agama yang direstui Gereja Latin pada Abad Pertengahan. Menurut anggapan umum, Perang Salib adalah sebutan bagi perang-perang di kawasan timur Laut Tengah yang bertujuan membebaskan Tanah Suci dari penjajahan Islam, namun sesungguhnya istilah "Perang Salib" juga digunakan sebagai sebutan bagi perang-perang yang direstui Gereja di kawasan-kawasan lain. Perang Salib dikobarkan dengan berbagai alasan, baik untuk memberantas penyembahan berhala dan ajaran sesat, untuk menyelesaikan pertikaian di antara pihak-pihak yang sama-sama beragama Kristen Katolik, maupun demi mencapai maksud-maksud politik dan penguasaan wilayah. Ketika pertama kali berkobar, perang-perang semacam ini belum disebut "Perang Salib". Istilah "Perang Salib" baru mengemuka sekitar tahun 1760.

Pada 1095, Paus Urbanus II menyeru dunia Kristen untuk mengobarkan Perang Salib Pertama dalam khotbahnya pada penyelenggaraan Konsili Clermont. Ia mengimbau para hadirin untuk mengerahkan kekuatan militer demi membantu Kekaisaran Bizantin dan Kaisar Bizantin, Aleksios I, yang kala itu memerlukan tambahan pasukan guna menghadapi orang-orang Turki yang telah bermigrasi ke barat dan telah menjajah Anatolia. Salah satu tujuan yang ingin dicapai oleh Sri Paus adalah terjaminnya keleluasaan dan keamanan bagi para peziarah Kristen untuk berziarah ke tempat-tempat suci agama Kristen di kawasan timur Laut Tengah yang telah diduduki kaum Muslim, namun para pakar tidak sependapat mengenai apakah jaminan akses bagi para peziarah ini adalah motif utama dari Sri Paus sendiri ataukah motif utama dari pihak-pihak yang menanggapi seruannya. Mungkin saja Sri Paus sebenarnya bermaksud untuk mempersatukan kembali belahan Timur dan belahan Barat Dunia Kristen yang terpisah semenjak peristiwa Skisma Timur-Barat pada 1054, serta menjadikan dirinya sendiri sebagai kepala segenap Gereja.

Kemenangan awal yang diraih bala tentara Kristen dalam Perang Salib menghasilkan pendirian empat Negara Tentara Salib yang pertama di kawasan timur Laut Tengah, yakni Kabupaten Edessa, Kepangeranan Antiokhia, Kerajaan Yerusalem, dan Kabupaten Tripoli. Tanggapan yang menggebu-gebu terhadap seruan Paus Urbanus dari seluruh kalangan masyarakat Eropa Barat menjadi preseden bagi perang-perang Salib selanjutnya. Para sukarelawan menjadi Tentara Salib dengan mengikrarkan kaul di muka umum dan menerima indulgensi paripurna dari Gereja. Sebagian sukarelawan berharap akan diangkat beramai-ramai ke surga dari Yerusalem atau beroleh ampunan dari Allah atas segala dosanya, sementara sukarelawan yang lain ikut serta menjadi Tentara Salib demi menunaikan kewajiban feodal, demi kemuliaan dan kehormatan, atau demi keuntungan ekonomi dan politik.

Upaya dua abad untuk membebaskan Tanah Suci dari kaum Muslim berakhir dengan kegagalan. Sesudah Perang Salib Pertama, masih berkobar lagi enam Perang Salib besar dan banyak Perang Salib yang kecil-kecil. Setelah benteng-benteng terdepan Kristen Katolik yang terakhir ditaklukkan pada 1291, tidak ada lagi Perang Salib, tetapi keuntungan yang berhasil dikumpulkan bertahan lebih lama di kawasan utara dan barat Eropa. Perang Salib Wendi dan perang-perang Salib yang dikobarkan oleh Uskup Agung Bremen berhasil mempersatukan seluruh kawasan timur laut Semenanjung Baltik serta suku-suku di Mecklenburg dan Lausitz di bawah kendali pihak Kristen Katolik pada penghujung abad ke-12.

Pada permulaan abad ke-13, Tarekat Kesatria Teuton mendirikan sebuah Negara Tentara Salib di Prusia, dan monarki Perancis memanfaatkan Perang Salib Albigensia untuk memperluas wilayah kekuasaannya sampai ke Laut Tengah. Sepak terjang Kesultanan Turki-Osmanli pada penghujung abad ke-14 ditanggapi pihak Kristen Katolik dengan perang-perang Salib yang berakhir dengan kekalahan bala Tentara Salib di Nikopolis pada 1396 dan di Varna pada 1444. Eropa di bawah kendali pihak Kristen Katolik terpuruk dalam keadaan kacau-balau, dan babak terakhir dalam perseteruan Kristen–Islam ditandai oleh dua peristiwa yang menggetarkan: jatuhnya Konstantinopel ke tangan Kesultanan Turki-Osmanli pada 1453, dan kemenangan akhir Spanyol atas bangsa Moro dengan takluknya Granada pada 1492. Gagasan Perang Salib terus hidup, sekurang-kurangnya dalam wujud Tarekat Kesatria Hospitalis, sampai akhir abad ke-18, namun tumpuan minat orang Eropa Barat telah beralih ke Dunia Baru.

0 Response to "Sejarah Singkat Terjadinya Perang Salib"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel